Ketimpangan Distribusi Pendapatan 

Diposting pada

Ketimpangan Distribusi Pendapatan

Setelah indonesia merdeka, ketimpangan ekonomi tidak separah saat zaman penjajahan, tetapi konglomerasi (1987-1994) telah menciptakan ketimpangan ekonomi yang luar biasa. Inilah yang menjadi ”bom waktu” yang kemudian meledak sebagai krisis moneter pada tahun 1997. Dalam 26 tahun (19714997), rasio pendapatan penduduk daerah terkaya dan termiskin meningkat dari 5,1 (1971) menjadi 6,8 (1983} dan 9.8 (1997).

Rasio Sini, sebagai indikator ketimpangan pendapatan, meningkat berturut-turut dari 0,18 menjadi 0,21 dan 0,24 masing-masing pada tahun 1971, 1983, 1997. Bagaimana kondisi ketimpangan pascakrisis? Memang PDB per kapita Indonesia pada tahun 2009 meningkat menjadi $2.590. tetapi ketimpangan distribusi pendapatan semakin meningkat.

Ketimpangan yang meningkat diukur dengan: pertama, ketimpangan distribusi pendapatan yang makin lebar. sebagaimana tercermin dari rasio gini yang meningkat dari 0,33 pada tahun 2002 menjadi 0,37 pada tahun 2009. Kedua, kue nasional yang dinikmati oleh keiompok 40% penduduk termiskin rnengaiami sedikit peningkatan dari 208% tahun 2004 menjadi 21,2% pada tahun 2009, demikian juga 40% penduduk menengah mengalami sedikit peningkatan dari 37,1% tahun 2004 menjadi 37.5% pada tahun 2009.

Menariknya. peningkatan kue nasional yang dinikmati kelompok 40% penduduk termiskin dan menengah justru diikuti oleh penurunan kue nasional yang dinikmati oieh 20% keiompok terkaya dari 42.1% menjadi 41,24%. Dari dimensi Spasial, dengan indikator gini rasio sebagai ukuran ketimpangan distribusi pendapatan ternyata cukup bervariasi, baik antarprovinsi maupun daerah kota dan desa (Kuncoro: bab 7)

ada 3 pola yang menarik.

Pertama, terjadi peningkatan rasio gini dari tahun 1990 ke 1996 untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Artinya, timpangan pendapatan cenderung meningkat sebelum krisis ekonomi.

Kedua, penurunan rasio gini terjadi selama 1998=2004 untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Meskipun cenderung meningkat sejak tahun 2005.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *